Copyright © adehidstory
Design by Dzignine
Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
Tuesday, September 17, 2013

Abandoned Diary #6: Kuasa Allah itu Nyata

Hari ini kukira pagiku tak akan sama lagi dengan pagi-pagi lainnya...
Pagiku tak lagi penuh kedamaian dan ketenangan, melainkan sebuah penyesalan...
Pagiku hari ini, lagi, diawali dengan seruan istighfar dilanjutkan dengan mengacak-acak rambut...

I am frustated...

Keadaan ini berlanjut sampai ke kampus... mood amburadul.
aku gagal lagi di tes ke-3 pikirku...karena aku membuktikan sendiri bahwa hasil jawaban tesku yang terakhir tidak sesuai dengan rumus yang ada di buku salah satu dosen. Jangankan sesuai rumus, aku malah tak menggunakan rumus melainkan memakai cara konvensional....!!!

Walaupun 3 nomor sudah ku pastikan benar (karena memang soalnya sudah pernah dikerjakan sebelumnya), tapi kalau salah satu soal saja sudah dipastikan tidak lulus, begitu peraturannya...

Sampai pada kuliah ke-2 di hari yang sama... aku masih tak berani, ah bukan tak berani, tapi tak mau mengecek sendiri pengumuman kelulusan di tes ke-3 ini. Tak mau memastikan kegagalanku.

Tapi tuhan berkata lain...
di tengah mood yang masih tak menentu saat menunggu dosen... temenku Gisna bilang
"tuh kan de...kamu lulus"
"hah?" aku  masih belum menerima sepenuhnya, diam melongo, tapi jantungku berdenyut liar sekali..
Lalu untuk membuat ku lebih percaya, dia kembali bertanya pada teman lainnya (yang mungkin barusaja mengecek pengumuman) tentang siapa saja yang lulus tes ke-3

Dan aku mendengar namaku disebut,
lalu...

aku beristighfar...

Rasanya semua beban terangkat dalam sekejap, semua penyesalan, kekecewaan, kecemasan hilang melayang dan sirna seketika...

Aku lulus ya Allah? sungguh? tapi aku masih belum yakin apakah ini valid atau tidak. Aku sudah memastika bahwa salah satu jawabanku salah. Mungkinkah dosen yang memeriksa kasihan? Karena, daripada tidak ada mahasiswa yang lulus pada tes dimana beliaulah yang membuat soal, bukankah lebih baik dia meluluskan yang jawabannya cukup 'lumayan', walaupun salah???

Itu baru asumsiku..., aku masih yakin sekali dengan rumus yang ada di buku. Rumus yang belum pernah ku pelajari, tapi sekali kulihat aku dapat memastikan bahwa inilah yang diinginkan soal 'menjengkelkan' itu.
Sebab, variabel-variabelnya sesuai, dan kondisinya pun sama...

Yang jelas, seharian ini aku tak lepas dari memuji kekuasaan Rabb-ku. Betapa Ia mendengarkan doaku, betapa Ia melihat aku disini begitu mengharapkan uluran tangan-Nya..., dan aku merasa hina sekali...

Malam ini, aku kembali mengecek buku dosen yang menyajikan rumus tersebut. Ada dua jenis rumus menghitung Rmin (perbandingan refluks eksternal minimum), untuk umpan berupa uap jenuh, dan untuk umpan berupa cair jenuh.

Rumus yang ku pakai tentu yang sesuai dengan si 'soal'. Uap jenuh. Aku masih memperoleh hasil Rmin yang sama, 2.16. Hasil yang sangat berbeda dengan jawabanku saat tes; 0,96.
 Hasil yang membuatku stress semalaman dan terbangun dengan kesesakan.

Tapi, beberapa saat yang lalu, lagi-lagi aku heran dengan penglihatanku. Setan apa yang bertengger di mataku dari kemarin?

Rumus yang seharusnya ku pakai untuk mengecek jawaban ternyata yang satu lagi.... bukan yang menghasilkan nilai 2,16...
tapi yang satu lagi... yang menghasilkan nilai 0,96...!!! Ade, baca kalimatnya yang bener dong...!


Dan saat itu aku sadar, cara konvensionalku saat tes, yang hanya 10% kuyakini kebenarannya, ternyata menghasilkan jawaban yang sama dengan rumus entah apa lah ini..., ga ngerti lagi...

Subhannallah...

Lihat bagaimana Dia mempermainkanku dengan mudahnya... memberiku pembelajaran yang sangat berharga dengan tenggelam dan terjatuh. Memberiku rasa kecewa dan terluka, lalu menunjukkan akhir yang tak terduga indahnya. Ia telah memberiku kesempatan untuk mencicipi sepotong cerita dari skenario-Nya yang sempurna...

He is Allah, the One Who Listen 





Sunday, September 15, 2013

Abandoned Diary #4: The Worst Mistake

Tes Praktikum Operasi Teknik Kimia (POTK) ke-2 berjalan sesuai harapan, Gampang. Tapi sayangnya itu justru yang membuat kesalahanku menjadi kesalahan ter-nyesek seumur hidup...

Sebelumnya, aku dan sekitar 40an temen telah mengikuti tes POTK pertama pada hari Senin (10/9/13), dan hasilnya sangat tidak memuaskan..., aku malah tidak mengumpul lembar jawabanku karena yakin bakalan tidak lolos...

Gimana mau yakin..., 2 soal sudah dipastikan salah..., ga tau aku lupa penyelesaian aljabarnya...
Padahal tinggal memecah integral dari fungsi yang penyebutnya orde 2 aja...lah kok sampe gabisa...??
Harusnya gampang..., tinggal difaktorkan...! Eh...malah pura-pura jadi anak SD... samakan penyebut..!
Entah apa yang salah denganku...

Soal yang satu lagi, aku bisa, soalnya udah prediksi bakal keluar.
Soal terakhir juga aneh..., bukan soalnya, tapi aku yang aneh, udah jelas dibilangin fraksi uap...tapi ku tulis Xa=... yang menyimbolkan fraksi cairnya..., goblok...!

Akhirnya dari 4 soal, 3 soal lama, 1 soal baru, aku memastikan cuma bener 1 soal. Karena udah memutuskan surrender, soal nomor satu aku liat-liat doang... and you know..! pas di kelas, aku coba-coba sendiri yang nomer 1 itu... eh bisa...ketemu..!!! Asssyem.

Tes pertama 1 orang yang lulus. Jedeerrr..., yah begitulah, karena syarat lulus adalah benar 100%. alias dapat 100. Kayanya emang kebanyakan yang salah di nomer 1 itu...

Oke.... sekarang mari beralih ke tes ke-2 yang..., apa ya....ehmm..
Gini..., jadi tes ke-2 yang menguji itu dosennya baikkk... 3 soal lama yang dikeluarkan sudah kubahas... dan bener semua...

1 soal baru yang dikasih pun gampang... ga kaya tes pertama...
Tapi....oh tetapi.....
Entah setan apa yang nangkring di mata, atau jin apa yang merasuki ku... soal nomer 1 yang gampang banget itu pulalah yang membuat-ku gagal....!!!

Yah...pasti dong, salah 1 soal = FAILED

Tau gak salahku dimana?

Jadi begini... aku sampe hafal soalnya saking nyeseknya, tapi pake bahasa sendiri aja ya:

Menara distilasi dengan umpan 100 gmol./jam menghasilkan hasil atas dan hasil bawah dengan laju D sama  W..., Fraksi zat A di umpan 0,4. Fraksi distilat 0.9, Fraksi residu 0.1 nah...kita nyari W sama D nya...

Aku sampe gemeteran loh saking syoknya...,

TAPIIII coba lihat bagaimana aku ngerjainnya..:

Neraca massa total:

F=D+W
100=D+W
D=100-W.........(1) --- udah bener....(masih gemeteran)

Neraca massa komponen:

F.z   =  D.Xd + W.Xw
100.(0.4)  =  (100-W).(0.9) + 0.1W
40= 90 - 0.9W + 0.1W
40= 90 - W <-------- WOOOIIIIII.....!!!
W= 50
D=100-W=50---     mikir: aneh ya...

Dan...karena saking yakin benernya, dan gara-gara waktu udah habis...yang lain udah pada ngumpul..., aku (yang mau nge-cek ulang jawaban nomer 1 yang agak aneh itu) ga jadi nge-cek dan PD aja ngumpulin...

Terus, habis dikumpul...aku nanya ke temen sebelah sambil senyum;
"Nomer 1 berapa?"
"62,5 sama 37,5 kan?" <--- dia heran soalnya buat apa nanyain jawaban soal yang harusnya gampang banget..

Tiba-tiba langit runtuh.....ya tuhan..... salah....., ya tuhannnnn......
Ga bisa nangis... ga bisa marah...
Ga bisa apa-apa selain diam, diam, dan kesempatan emas untuk lulu itu telah...pergi...
astaghfirullah...

Yah...aku pada akhirnya sibuk menelisik hikmah dibalik semua ini, berusaha bersabar, melapangkan hati, walaupun setiap kali  aku ingat kejadian itu, rasanya sakiiiit banget.....

Kenapa aku concern banget sama masalah ini? soalnya tes-tes berukutnya kemungkinan soalnya belum tentu aku bisa..., dan yang aku bisa (tes-2)....kesempatan itu melayang begitu saja...

Tes ke-2, 14 orang temanku lolos. Ya, gak heran sih....

Kuharap Allah bisa memberiku kesempatan di tes berikutnya..., toh pada akhirnya Dia juga yang menentukan...

Saat aku menulis postingan ini, aku masih harap-harap cemas dengan 3 tes berikutnya, apakah aku bisa lolos? Atau pada akhirnya aku harus nge-drop POTK yang berarti aku menunda penelitianku?

Wallahu'alam.






Saturday, September 14, 2013

Abandoned Diary #2 : Cita-cita yang Di Luar Kendali

Saat ketika aku ingin menulis sedikit ringkasan kisahku, menuangkan rasa dan berbagai ekspresi yang terpendam, aku lalu berhenti. Aku tak pernah tahu bagaimana memulainya dengan menawan, elegan dan tanpa cela. Dan saat itulah..., saat ketika aku bimbang dengan jari-jariku, semuanya menguap dan lenyap seperti kabut. Meski ku tahu, fantasi-fantasi itu tetap akan muncul lagi...lagi...dan lagi..., tapi ia tak pernah sudi mengizinkan ku mengabadikannya dengan sesuatu yang lahiriah seperti tulisan.

Seandainya saja aku seorang penyair atau pujangga.., yang setiap potong katanya begitu bermakna dan mempesona.

Lihat, mudah sekali berandai-andai bukan? Ini adalah cita-cita. Harapan paling dalam.
Dulu guru-guru TK ku pernah bilang; 'Kamu bisa jadi apa saja, gantungkan cita-citamu setinggi langit, dan berusahalah untuk menggapainya'. Hah..., Bullshit. Lihat, apa yang kudapatkan dengan berangan-angan? Nothing.

Kau tau, kalau aku beberkan cita-citaku disini..., kau akan terperangah.., ini begitu liar dan diluar kendali. Seperti rumput rambat yang menjalar kemana-mana.

Suatu hari ada orang sukses di tv yang mengatakan ia menulis harapannya entah itu 10 atau 100--aku lupa-- di atas selembar kertas, dan dia berusaha mencapainya, dan ohhh lihat.. dia berhasil mencapai hampir semua target yang dia tulis....! selamat....ya...

H A H A H A

Bodoh sekali aku pernah meniru jejak orang itu...! Nih..., aku masih menyimpan agenda ku pas SMA, ada 10 target terbesarku..., dan saat aku tamat SMA 9 dari 10 sudah dicoret..., mana sih orang yang bilang cara ini bakalan bisa berhasil..? pengen nempelin kertas ini ke mukanya nih... hehehe

Yaudah sih, yang aku bisa lakukan saat ini memang menenggelamkan diri dalam fantasi-fantasi buas itu. Biarpun semua itu hanya ilusi, paling tidak bisa memberikan efek menyenangkan walau sesaat.

Hidup ini memang susah diatur-atur sob..., jangankan maneger, bahkan kita sendiri pun masih akan kewalahan kalau sok ngatur-ngatur hidup..., udahhh serahin Yang Punya Skenario ajadeh... Kau perlu yakin, entah itu mimpi, cita-cita, harapan, DIA bisa mendengar.... DIA tahu...,

Lalu pada akhirnya kita hanya perlu bersandar..., meletakkan penghambaan diri pada Sang Pencipta.